Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Kamis, 19 Mei 2011

FILSAFAT ILMU DAN ETIKA AKADEMIK (LANDASAN ONTOLOGI)

          

FILSAFA


                            
TUGAS KELOMPOK
Disusun untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mata Kuliah
Filsafat Ilmu dan Etika Akademik Program Strata Satu
PAUD pada FIP IKIP PGRI Jember
Dosen Pembimbing:
(Drs. Chodib Suyoso, MM)



Disusun Oleh:


1.         ANDIK PRASOJO                    8.    NURHAYATI
(2010 186 207 P0106)                       (2010 186 207 B1388
2.         AMELIA NUNING P.              9.    PARAMITA DELITA SARI
(2010 186 207 B0095                        (2010 186 207 B1466)
3.         NURUL MUAWANAH            10.  BINTI NUR ROHMAH
(2010 186 207 B1449)                       (2010 186 207 B0127)
4.         REFYANA MEKAR SARI      11.  NANIK OKTAVIA
(2010 186 207 B1516                        (2010 186 207 B1241)
5.         TITAH ANISWATIN                12.  LUVI KARTIKA WARDANI
(2010 186 207 B2082)                       (2010 186207 B0981)
6.         RISKA MEGA RINI                 13.  UUN PARUMIKA HESTI
(2010 186 207 B1567)                       (2010 186 207 B 2182)
7.         FIRDANTY PENGUDI L.       
(2010 186 207 B0512



PROGRAM STRATA SATU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI JEMBER
APRIL 2011


                                                                 
                                                                  KATA PENGANTAR


Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya penyusunan laporan tugas kelompok ini yang merupakan pengembangan ilmu pengetahuan yang telah kami peroleh selama masa perkuliahan.
Laporan tugas kelompok ini diajukan untuk melengkapi atau memenuhi salah satu syarat menempuh kelulusan semester II (dua) Program Pendidikan Filsafat Ilmu dan Etika Akademik.
Disini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung dan membantu dalam penyelesaian penulisan laporan tugas kelompok ini diantaranya:
1.        Orang tua penulis yang sangat kami cintai yang telah memberikan do’a dan motivasi pada kami.
2.        Bapak Drs. Chodib Suyoso, MM, selaku Dosen yang telah membimbing kami dalam menyelesaikan laporan tugas kelompok ini.
3.        Dan tak lupa pula kepada semua teman-teman yang telah membantu sehingga laporan tugas kelompok ini dapat terselesaikan.
Disamping itu penulis juga menyadari bahwa dalam membuat makalah/tugas kelompok ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan saran dan kritik untuk membangun pola pikir penulis menjadi lebih baik. Harapan penulis semoga laporan tugas kelompok ini bermanfaat dan menambah pengetahuan penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
                                                                                           Nganjuk,       April  2011
                                                                                                       Penyusun


                                                                               BAB I                                              

PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Pada hakekatnya filsafat ilmu adalah sebagai berikut:
1.         Ontologis
Cabang ini menguak tentang objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?
2.         Epistomologis
Dalam cabang ini berusaha menjawab bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pngetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?
3.         Aksiologis
Landasan ini akan menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional?
Jadi untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya, dengan pengetahuan jawaban-jawaban dari ketiga pertanyaan yang disebutkan. Maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah kehidupan manusia.
Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis mengambil judul Cabang Filsafat (Ontologis).
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan judul atau tema yang penulis angkat, maka penulis mencoba merumuskan masalah yaitu ”Objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana ujud hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berfikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?
C.      Tujuan Penulisan
1.    Tujuan Umum
       a)    Untuk memperluas ilmu pengetahuan.
       b)    Untuk mempermudah membedakan jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah manusia.
       c)    Sebagai sarana dalam menyerap ilmu filsafat.
       d)    Menambah wawasan beberapa cabang filsafat.
2.    Tujuan Khusus
 a)    Untuk melatih kemampuan dalam penguraian masalah
 b)    Untuk mengetahui lebih dekat bagaimana dan apa yang ditelaah ilmu pada bahasan ini.
c)    Untuk melatih keterampilan dan wawasan mahasiswa yang telah diterima selama kuliah.
A.      Ruang Lingkup Penulisan
                                Dengan mengacu pada judul, maka dalam ruang lingkup penulisan ini hanya penulis batasi mengenai cabang filsafat (landasan Ontologi), Objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaiman ujud hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berfikir, merasa dan mengindra) ) yang membuahkan pengetahuan?

BAB II
LANDASAN

A.      Pengertian Filsafat
Istilah ”Filsafat” dapat ditinjau dari dua segi, yakni:
1.             Segi Semantik:
Perkataan filsafat berasal dari bahasa Arab ”Falsafah” yang berasal dari bahasa Yunani philosophia, yang berarti ”philos”=cinta, suka (loving), dan ”sophia”=pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi ”Philosophia” berarti cita kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut ”Philosopher”, dalam bahasa arabnya ”Failasuf”. Pecinta pengetahuan ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai tujuan hidupnya atau perkataan lain mengabdikan dirinya kepada pengetahuan.
2.             Segi Praktis:
Dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat berarti ”alam pikiran” atau ”alam berpikir”. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Bersilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain: filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.
B.       Definisi Filsafat Menurut Para Ahli
1.         Plato (427 SM-347 SM) Seorang filsuf Yunani yang termasyur murid Socrates dan guru Aristoteles, mengatakan: Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli).
2.         Aristoteles (384 SM-322 SM) mengatakan: Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang didalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan atas segala benda).
3.         Marcus Tullius Cicero (106 SM-43 SM) Politikus dan ahli pidato Romawi, merumuskan: Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
4.         Al-Farabi (Meninggal 950 M), Filsuf Muslim terbesar sebelum Ibnu Sina, mengatakan 1.         : Filsafat adalam ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.
2.         Immanuel Kant (1724-1804), yang sering disebut raksasa pikir Barat, mengatakan: Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu:
”Apakah yang dapat kita ketahui? (jawab oleh metafisika)
”Apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika)
”Sampai dimanakah pengharapan kita? (dijawab oleh antropologi)

1.         Prof. Dr. Fuad Hasan. Guru besar psikologi UI, menyimpulkan: Filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan. Dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal.
Drs. H. Hasbullah Bakry merumuskan: ilmu filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai oleh akal manusia, dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
BAB III
PEMBAHASAN

A.      Apa yang ditelaah Ilmu?
Objek telaah ontologi adalah yang ada, Studi tentang yang ada, Pada dataran studi filsafat pada umumnya dilakukan oleh filsafat metafisika. Istilah ontologi banyakdigunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus: menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.
Muhadjir (1998) mengemukakan ontologis mengkaji tentang yang ada secara universal, yaitu berusaha mencari inti yang dimuat setiap kenyataan yang meliputi segala realitas dalam semua bentuknya. Kajian batasan merupakan aspek moral dalam pendekatan antologis Syafiie (2004:10) mengemukakan keseimbangan tingkat antara kecerdasan logika dan etika faktor penentu tingkat moral ilmuan. Penetapan batas antologis keilmuan yang bersifat empiris adalah konsistensi asas epistimilogis keilmuan yang mensyaratkan adanya verifikasi secara empiris.
Secara ontologis maka ilmu bersifat netral terhadap nilai, dimbimbing oleh kaidah moral, dan tidak merendahkan manusia. Etika merupakan suatu sikap kesediaan jiwa untuk senantiasa taat dan patuh pada seperangkat peraturan kesusilaan. Norma hukum mempunyai peranan yang penting dalam bidang etika. Pendekatan ontologis yang mengkaji tentang objek apa berupaya bersandar pada moralitas yang secara langsung mempengaruhi tingkat moralitas aspek epistimologis dan aksiologis.
B.       Bagaimana Wujud yang hakiki dari objek tersebut ?
Objek ilmu atau keilmuan adalah dunia empirik, dunia yang dapat dijangkau panca indra: objek ilmu adalah pengalaman indrawi.
·           Ontologi ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika.
·           Jadi intinya wujud hakiki yang ditelaah objek tersebut adalah segala sesuatu yang ada yaitu dunia empirik, duia yang dapat dijangkau oleh panca indra. Karena sebenarnya objek ilmu adalah pengalaman indrawi dan juga mempelajari sesuatu yang berwujud dengan berdasarkan pada logika.



C.      Hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berfikir, merasa dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan.
Bersumber pada objek telaah antologi adalah hal yang ada. Yang universal jadi objek/hal yang ada mempunyai hubungan dengan daya tangkap manusia, karena timbul objek yang ditelaah dengan daya tangkap manusia seperti (berfikir, merasa dan mengindra), hakekatnya sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika, pengalaman indrawi dan membuahkan pengetahuan.
Contoh:
Objek         :    ”Sesuatu yang bersifat lahiriah itu fana’
                        ”Badan itu sesuatu yang lahiri
Kesimpulan :      Jadi, badan itu fana'


                                                                         BAB V
                                                                     PENUTUP

Demikian penulisan makalah tentang filsafat ilmu khususnya tentang landasan ontologis. Harapan penulis semoga penulisan makalah ini bermanfaat dan menambah pengetahuan penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
Selama melaksanakan perkuliahan dan kegiatan ini, maka penulis atau penyusun dapat membuat kesimpulan yaitu sebagai berikut:
A.      Simpulan
Dari hasil pembelajaran penulis selama melaksanakan penyusunan makalah ini, penulis atau penyusun dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
-            Ontologi à ontos = sesuatu yang berwujud; logos = ilmu.
-            Ontologi: ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada
-            Mempersoalkan tentang wujud hakiki objek ilmu atau keilmuan itu apa?
-            Objek ilmu atau keilmuan adalah dunia empirik, dunia yang dapat dijangkau panca indra à objek ilu adalah pengalaman indrawi.
-            Ontologi: ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika.



DAFTAR PUSTAKA

 


Plato. (427 SM-322 SM). Pholosophy Of Education. Yunani.

Muhajir, Noeng. (1989). Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sapasin.

Hasan, Fuad. (1993). Guru Besar Psikologi UI. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Power. J. Edward. (1982). Pholosophy of Education. Jakarta: Bulan Bintang.

Shadily, Hassan. (ed). (1980). Ensiklopedi Indonesia. Jakarta: Ichtisar Baru.

Anna, Poedjadi. (1987). Filsafat dan Sejarah Sains. Jakarta: PPLP TK.






1 komentar:

sultan ahmad afandi mengatakan...

masak badan itu fana???

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates