Kamis, 19 Mei 2011

FILSAFAT ILMU DAN ETIKA AKADEMIK (LANDASAN ONTOLOGI)

          

FILSAFA


                            
TUGAS KELOMPOK
Disusun untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mata Kuliah
Filsafat Ilmu dan Etika Akademik Program Strata Satu
PAUD pada FIP IKIP PGRI Jember
Dosen Pembimbing:
(Drs. Chodib Suyoso, MM)



Disusun Oleh:


1.         ANDIK PRASOJO                    8.    NURHAYATI
(2010 186 207 P0106)                       (2010 186 207 B1388
2.         AMELIA NUNING P.              9.    PARAMITA DELITA SARI
(2010 186 207 B0095                        (2010 186 207 B1466)
3.         NURUL MUAWANAH            10.  BINTI NUR ROHMAH
(2010 186 207 B1449)                       (2010 186 207 B0127)
4.         REFYANA MEKAR SARI      11.  NANIK OKTAVIA
(2010 186 207 B1516                        (2010 186 207 B1241)
5.         TITAH ANISWATIN                12.  LUVI KARTIKA WARDANI
(2010 186 207 B2082)                       (2010 186207 B0981)
6.         RISKA MEGA RINI                 13.  UUN PARUMIKA HESTI
(2010 186 207 B1567)                       (2010 186 207 B 2182)
7.         FIRDANTY PENGUDI L.       
(2010 186 207 B0512



PROGRAM STRATA SATU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI JEMBER
APRIL 2011


                                                                 
                                                                  KATA PENGANTAR


Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya penyusunan laporan tugas kelompok ini yang merupakan pengembangan ilmu pengetahuan yang telah kami peroleh selama masa perkuliahan.
Laporan tugas kelompok ini diajukan untuk melengkapi atau memenuhi salah satu syarat menempuh kelulusan semester II (dua) Program Pendidikan Filsafat Ilmu dan Etika Akademik.
Disini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung dan membantu dalam penyelesaian penulisan laporan tugas kelompok ini diantaranya:
1.        Orang tua penulis yang sangat kami cintai yang telah memberikan do’a dan motivasi pada kami.
2.        Bapak Drs. Chodib Suyoso, MM, selaku Dosen yang telah membimbing kami dalam menyelesaikan laporan tugas kelompok ini.
3.        Dan tak lupa pula kepada semua teman-teman yang telah membantu sehingga laporan tugas kelompok ini dapat terselesaikan.
Disamping itu penulis juga menyadari bahwa dalam membuat makalah/tugas kelompok ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan saran dan kritik untuk membangun pola pikir penulis menjadi lebih baik. Harapan penulis semoga laporan tugas kelompok ini bermanfaat dan menambah pengetahuan penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
                                                                                           Nganjuk,       April  2011
                                                                                                       Penyusun


                                                                               BAB I                                              

PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Pada hakekatnya filsafat ilmu adalah sebagai berikut:
1.         Ontologis
Cabang ini menguak tentang objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?
2.         Epistomologis
Dalam cabang ini berusaha menjawab bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pngetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?
3.         Aksiologis
Landasan ini akan menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional?
Jadi untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya, dengan pengetahuan jawaban-jawaban dari ketiga pertanyaan yang disebutkan. Maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah kehidupan manusia.
Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis mengambil judul Cabang Filsafat (Ontologis).
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan judul atau tema yang penulis angkat, maka penulis mencoba merumuskan masalah yaitu ”Objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana ujud hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berfikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?
C.      Tujuan Penulisan
1.    Tujuan Umum
       a)    Untuk memperluas ilmu pengetahuan.
       b)    Untuk mempermudah membedakan jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah manusia.
       c)    Sebagai sarana dalam menyerap ilmu filsafat.
       d)    Menambah wawasan beberapa cabang filsafat.
2.    Tujuan Khusus
 a)    Untuk melatih kemampuan dalam penguraian masalah
 b)    Untuk mengetahui lebih dekat bagaimana dan apa yang ditelaah ilmu pada bahasan ini.
c)    Untuk melatih keterampilan dan wawasan mahasiswa yang telah diterima selama kuliah.
A.      Ruang Lingkup Penulisan
                                Dengan mengacu pada judul, maka dalam ruang lingkup penulisan ini hanya penulis batasi mengenai cabang filsafat (landasan Ontologi), Objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaiman ujud hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berfikir, merasa dan mengindra) ) yang membuahkan pengetahuan?

BAB II
LANDASAN

A.      Pengertian Filsafat
Istilah ”Filsafat” dapat ditinjau dari dua segi, yakni:
1.             Segi Semantik:
Perkataan filsafat berasal dari bahasa Arab ”Falsafah” yang berasal dari bahasa Yunani philosophia, yang berarti ”philos”=cinta, suka (loving), dan ”sophia”=pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi ”Philosophia” berarti cita kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut ”Philosopher”, dalam bahasa arabnya ”Failasuf”. Pecinta pengetahuan ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai tujuan hidupnya atau perkataan lain mengabdikan dirinya kepada pengetahuan.
2.             Segi Praktis:
Dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat berarti ”alam pikiran” atau ”alam berpikir”. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Bersilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain: filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.
B.       Definisi Filsafat Menurut Para Ahli
1.         Plato (427 SM-347 SM) Seorang filsuf Yunani yang termasyur murid Socrates dan guru Aristoteles, mengatakan: Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli).
2.         Aristoteles (384 SM-322 SM) mengatakan: Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang didalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan atas segala benda).
3.         Marcus Tullius Cicero (106 SM-43 SM) Politikus dan ahli pidato Romawi, merumuskan: Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
4.         Al-Farabi (Meninggal 950 M), Filsuf Muslim terbesar sebelum Ibnu Sina, mengatakan 1.         : Filsafat adalam ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.
2.         Immanuel Kant (1724-1804), yang sering disebut raksasa pikir Barat, mengatakan: Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu:
”Apakah yang dapat kita ketahui? (jawab oleh metafisika)
”Apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika)
”Sampai dimanakah pengharapan kita? (dijawab oleh antropologi)

1.         Prof. Dr. Fuad Hasan. Guru besar psikologi UI, menyimpulkan: Filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan. Dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal.
Drs. H. Hasbullah Bakry merumuskan: ilmu filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai oleh akal manusia, dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
BAB III
PEMBAHASAN

A.      Apa yang ditelaah Ilmu?
Objek telaah ontologi adalah yang ada, Studi tentang yang ada, Pada dataran studi filsafat pada umumnya dilakukan oleh filsafat metafisika. Istilah ontologi banyakdigunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus: menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.
Muhadjir (1998) mengemukakan ontologis mengkaji tentang yang ada secara universal, yaitu berusaha mencari inti yang dimuat setiap kenyataan yang meliputi segala realitas dalam semua bentuknya. Kajian batasan merupakan aspek moral dalam pendekatan antologis Syafiie (2004:10) mengemukakan keseimbangan tingkat antara kecerdasan logika dan etika faktor penentu tingkat moral ilmuan. Penetapan batas antologis keilmuan yang bersifat empiris adalah konsistensi asas epistimilogis keilmuan yang mensyaratkan adanya verifikasi secara empiris.
Secara ontologis maka ilmu bersifat netral terhadap nilai, dimbimbing oleh kaidah moral, dan tidak merendahkan manusia. Etika merupakan suatu sikap kesediaan jiwa untuk senantiasa taat dan patuh pada seperangkat peraturan kesusilaan. Norma hukum mempunyai peranan yang penting dalam bidang etika. Pendekatan ontologis yang mengkaji tentang objek apa berupaya bersandar pada moralitas yang secara langsung mempengaruhi tingkat moralitas aspek epistimologis dan aksiologis.
B.       Bagaimana Wujud yang hakiki dari objek tersebut ?
Objek ilmu atau keilmuan adalah dunia empirik, dunia yang dapat dijangkau panca indra: objek ilmu adalah pengalaman indrawi.
·           Ontologi ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika.
·           Jadi intinya wujud hakiki yang ditelaah objek tersebut adalah segala sesuatu yang ada yaitu dunia empirik, duia yang dapat dijangkau oleh panca indra. Karena sebenarnya objek ilmu adalah pengalaman indrawi dan juga mempelajari sesuatu yang berwujud dengan berdasarkan pada logika.



C.      Hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berfikir, merasa dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan.
Bersumber pada objek telaah antologi adalah hal yang ada. Yang universal jadi objek/hal yang ada mempunyai hubungan dengan daya tangkap manusia, karena timbul objek yang ditelaah dengan daya tangkap manusia seperti (berfikir, merasa dan mengindra), hakekatnya sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika, pengalaman indrawi dan membuahkan pengetahuan.
Contoh:
Objek         :    ”Sesuatu yang bersifat lahiriah itu fana’
                        ”Badan itu sesuatu yang lahiri
Kesimpulan :      Jadi, badan itu fana'


                                                                         BAB V
                                                                     PENUTUP

Demikian penulisan makalah tentang filsafat ilmu khususnya tentang landasan ontologis. Harapan penulis semoga penulisan makalah ini bermanfaat dan menambah pengetahuan penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
Selama melaksanakan perkuliahan dan kegiatan ini, maka penulis atau penyusun dapat membuat kesimpulan yaitu sebagai berikut:
A.      Simpulan
Dari hasil pembelajaran penulis selama melaksanakan penyusunan makalah ini, penulis atau penyusun dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
-            Ontologi à ontos = sesuatu yang berwujud; logos = ilmu.
-            Ontologi: ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada
-            Mempersoalkan tentang wujud hakiki objek ilmu atau keilmuan itu apa?
-            Objek ilmu atau keilmuan adalah dunia empirik, dunia yang dapat dijangkau panca indra à objek ilu adalah pengalaman indrawi.
-            Ontologi: ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika.



DAFTAR PUSTAKA

 


Plato. (427 SM-322 SM). Pholosophy Of Education. Yunani.

Muhajir, Noeng. (1989). Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sapasin.

Hasan, Fuad. (1993). Guru Besar Psikologi UI. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Power. J. Edward. (1982). Pholosophy of Education. Jakarta: Bulan Bintang.

Shadily, Hassan. (ed). (1980). Ensiklopedi Indonesia. Jakarta: Ichtisar Baru.

Anna, Poedjadi. (1987). Filsafat dan Sejarah Sains. Jakarta: PPLP TK.






PANDANGAN PARA AHLI TENTANG PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

PANDANGAN PARA AHLI TENTANG
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI


TUGAS AKHIR DAN KELOMPOK


Disusun untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mata Kuliah
Konsep Dasar Pengembangan PAUD Program Strata Satu
PAUD Pada FIP IKIP PGRI Jember

Dosen Pembimbing:
(Dra. WAHYUNI SUKARTINI, MM)



Disusun Oleh:

1.         ANDIK PRASOJO                        7.    NUR HAYATI
2.         SITI FADILAH                              8.    NURIL MU’AWANAH
3.         SUKARNI                                      9.    SITI ASIYAH
4.         NOVI DWI P.                                 10.  DA’WATUL HASANAH
5.         TITA ANISWATI                          11.  DENNY BUANA PUTRI
6.         WARNO ENDANG                       12. 



PROGRAM STRATA SATU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI JEMBER
JANUARI 2011



                                              
                                                  
                                                                 KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya penyusunan Laporan Tugas Akhir ini yang merupakan pengembangan ilmu pengetahuan yang telah kami peroleh selama masa perkuliahan semester satu ini.
Laporan ini diajukan untuk melengkapi atau memenuhi salah satu syarat menempuh kelulusan semester I (Satu) Program Pendidikan Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.
Disini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penulisan laporan ini, diantaranya:
1.        Orang tua penulis yang sangat kami cintai yang telah memberikan do’a dan motivasi pada kami.
2.        Ibu Dra. Wahyuni Sukartini, MM, selaku Dosen yang telah membimbing kami dalam menyelesaikan laporan ini.
3.        Dan tak lupa pula kepada semua teman-teman yang telah membantu sehingga laporan ini dapat terselesaikan.
Disamping itu penulis juga menyadari bahwa dalam membuat laporan ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan saran dan kritik untuk membangun pola pikir penulis menjadi lebih baik. Harapan penulis semoga laporan ini bermanfaat dan menambah pengetahuan penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

                                                                                          Nganjuk,       Januari  2011
                                                                                                         Penulis,



                                                                              BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai strategi pembangunan sumber daya manusia dipandang sebagai titik sentral dan sangat fundamental serta strategis mengingat bahwa:
1.    Usia dini merupakan masa keemasan (The Golden Age), namun sekaligus periode yang sangat kritis  dalam tahap perkembangan manusia. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa sampai usia 4 tahun tingkat kapabilitas kecerdasan anak telah mencapai 20% diperoleh pada saat anak berusia 8 tahun keatas.
2.    Pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia dini, bahwan sejak dalam kandungan sangat menentukan derajat kualitas kesehatan, intelegensi, kematangan emosional, dan produktivitas manusia yang berkualitas
  3.    Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan  dengan tegas perlunya penanganan pendidikan anak usia dini, hal tersebut bisa dilihat pada pasal 1     butir 14 yang menyatakan bahwa: ”Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ]       ditujukan kepada anak sejak lahir isampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.”
4.    Tidak semua teori yang diterima sama dengan yang ada di lapangan, sehingga perlunya wawasan atau pandangan tentang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Berpijak dari hal tersebut, dalam rangka meningkatkan pemahaman kita tentang Pendidikan Anak Usia Dini, maka dipandang penting disusunnya ”Pandangan Para Ahli Tentang Pendidikan Anak Usia Dini”.
B.       Tujuan Penulisan
1.    Tujuan Umum
       a)    Untuk menambah wawasan mahasiswa tentang pengertian Pendidikan Anak Usia Dini.
       b)    Untuk mengetahui lebih mendalam tentang Pendidikan Anak Usia Dini.
2.    Tujuan Khusus
       a)    Untuk pengajaran dalam pedoman, pegangan, arahan dan petunjuk Pendidikan Anak Usia Dini.
C.      Manfaat Penulisan
1.    Manfaat Umum
       a)    Menambah materi dibidang PAUD secara langsung.
       b)    Menambah semangat kami untuk pengajaran.
       c)    Sebagai salah satu sumber pendidikan di bidang Pendidikan Anak Usia Dini.
2.    Manfaat Khusus
       a)    Sebagai pedoman, pegangan, arahan dan petunjuk dalam pengajaran.
D.      Ruang Lingkup Materi
Dengan mengacu pada judul, maka materi ini hanya membahas tentang Pengertian dan Pandangan para ahli tentang Pendidikan Anak Usia Dini, diantaranya oleh:
1.         J. H Pestalozi
2.         Frobel
3.         M. Montessori
4.         Kilpatrik
5.         Helen Parkhust


BAB  II

                                                                       LANDASAN



A.      Pengertian Pandangan
Pandangan adalah pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk, pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat.
Dengan demikian pandangan bukanlah timbul seketika atau dalam waktu yang singkat saja melainkan melalui proses waktu lama dan terus menerus sehingga hasil pemikiran itu dapat diuji kenyataannya. Hasil kenyataan itu dapat diterima oleh akal sehingga diakui kebenarannya.
Atas dasar ini manusia menerima pemikiran itu sebagai pegangan, pedoman arahan atau petunjuk yang disebut pandangan.
B.       Pengertian Pendidikan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu: memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian: proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik. Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.Pendidikan dalam bahasa Yunani berasal dari kata padegogik yaitu ilmu menuntun anak. Orang Romawi melihat pendidikan sebabai educare , yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan di dunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yakni: membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan atau potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti pengolahan, mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.
Dari pengertian-pengertian dan analisis yang ada maka bisa disimpulkan bahwa pendidikan adalah upaya menuntun anak sejak lahir untuk mencapai kedewasaan jasmani dan rohani, dalam interaksi alam beserta lingkungannya.
C.      Pengertian Anak
Anak merupakan seorang lak-laki/perempuan yang belum dewasa/belum mengalami masa pubertas. Anak juga merupakan keturunan kedua, dimana kata ”anak” merujuk pada lawan dari orang tua, orang dewasa adalah anak dari orang tua mereka, meskipun mereka telah dewasa.
Walaupun begitu istilah anak juga sering merujuk pada perkembangan mental seseorang, walaupun usianya secara biologis dan kronologis seseorang sudah termasuk dewasa namun apabila perkembangan mentalnya ataukah urutan umurnya maka seseorang dapat saja diasosiasikan dengan istilah ”Anak”.
Menurut pasal 1 ayat (2) Undang-undang No. 4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak menyebutkan bahwa:
“Anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu tahun dan belum pernah kawin”.
D.      Pengertian Usia Dini
Usia dini adalah mereka yang berusia lebih dari 2 (dua) tahun dan berusia kurang dari 13 tahun. Batasan ini sesuai dengan batasan yang dikemukakan oleh Brumfit, Moon dan Tongue (1991:V).
Dalam jenjang pendidikan batas terendah usia dini dalam pengertian ini adalah mereka yang memulai atau duduk di Taman Kanak-Kanak atau Kelompok Bermain, sedangkan jenjang pendidikan tertingginya adalah kira-kira mereka duduk di jenjang sekolah dasar kelas enam.
Guna memperjelas pemahaman tentang Pendidikan Anak Usia Dini maka akan dipaparkan, pandangan Pendidikan Anak Usia Dini menurut para tokoh-tokoh atau para ahli, diantaranya menurut:
1.         J.H Pestalozi
2.         Frobel
3.         M. Montessori
4.         Kilpatrik
5.         Helen Parkhust


BAB  III
                                                                     PEMBAHASAN
A.      J.H Pestalozi
(John Hemrich Pestalozi)
Dalam pendidikan terdapat beberapa beberapa hal diantaranya:
1)        Dasar Pendidikan            :    Dasar sosial, dasar psikologis.
2)        Tujuan Pendidikan          :    Mempertinggi derajat rakyat dengan mengembangkan potensi jiwa anak secara wajar.
3)        Isi Pendidikan                 :    Anasir-anasir dalam pengajaran berupa: bunyi, bentuk dan bilangan.
4)        Lembaga Pendidikan      :    Rumah kerja, rumah yatim piatu, lembaga pendidikan.
5)        Metode Pendidikan        :    Azas peragaan dan azas perkembangan.
B.       Friedrich Frobel (Jerman, 1782-1852)
1)        Dasar Pendidikan         :    Segala dunia ini merupakan unity dan deversity, perubahan ini kesatuan kepermacaman karena adanya aktivitet dan kreativitet.
2)        Tujuan Pendidikan                 :    Perkembangan anak secara bebas.
3)        Isi Pendidikan                        :    Bahan-bahan untuk latihan fungsi, motoris, sensoris dan bahasa.
4)        Lembaga Pendidikan      :    Taman Kanak-kanak ”Casa dei Bambini”
5)        Metode Pendidikan        :    Azas aktivitet, kebebasan dan kerja sendiri.
C.      Marta Montessorl (Italia, 1870-1952, Tokoh Pendidikan Kanak-Kanak)
1)    Dasar Pendidikan            :    Pembentukan sendiri, masa peka, kebebasan, perbedaan individual.
2)    Tujuan Pendidikan          :    Perkembangan anak secara bebas.
3)    Isi Pendidikan                 :    Bahan-bahan untuk latihan fungsi motoris, sensoris dan bahasa.
4)    Lembaga Pendidikan      :    Taman Kanak-Kanak ”Casa Dei Bambini”
5)    Metode Pendidikan        :    Azas aktivitet, kebebasan dan kerja sendiri.
D.      KILPATRIK
Dalam pendidikan terdapat beberapa hal, diantaranya:
1)    Dasar Pendidikan            :    Keagamaan, kemanusiaan dan kebudayaan, khususnya kebudayaan nasional. Kemasyarakatan dan hubungan yang erat antara guru dan murid.
2)    Tujuan Pendidikan          :    Membentuk manusia yang penuh rasa perdamaian dalam hidup bersama.
3)    Isi Pendidikan                 :    Semua bahan yang dapat mengembangkan seluruh segi kepribadian terutama kebudayaannasional dan vak-vak ekspresi.
4)    Lembaga Pendidikan      :    Ruang pendidik atau panti pandidikan.
5)    Metode Pendidikan        :    Sistem klasikal, azas keperagaan, azas ilmu pengetahuan alam.
E.       Helen Parkhurst (American, 1871-1900)
1)    Dasar Pendidikan            :    Prinsip demokrasi, azas perbedaan perseorangan, azas aktivitet dan kebebasan
2)    Tujuan Pendidikan          :    Membentuk anak agar menjadi warga negara yang baik.
3)    Isi Pendidikan                 :    Bahan pelajaran diatur dalam tugas tahunan, tugas bulanan dan tugas mingguan.
4)    Lembaga Pendidikan      :    Sistem Dalton, mendirikan sekolah menengah di kota Dalton sebagai Laboratorium.



BAB  IV
                                                                          PENUTUP
Demikian penulisan makalah tentang pandangan para ahli tentang Pendidikan Anak Usia Dini. Dengan adanya penulisan makalah ini, penulis atau penyusun lebih paham dan siap sebagai tenaga didik yang sebenarnya nantinya.
Selama melaksanakan perkuliahan dan kegiatan ini, maka penulis atau penyusun dapat membuat kesimpulan, yaitu sebagai berikut:
A.      Simpulan
Dari hasil pembelajaran penulis selama melaksanakan penyusunan makalah ini, penulis atau penyusun dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
Dalam pendidikan ada beberapa hal yang harus jelas dan harus dipenuhi, diantaranya:
a)         Dasar Pendidikan
b)        Tujuan Pendidikan
c)         Isi Pendidikan
d)        Lembaga Pendidikan
e)         Metode Pendidikan
                                     
                                                               DAFTAR PUSTAKA


Pestalozzi, John Heinrich, Tokoh Pendidikan Kanak-Kanak, Swiss: 1743-1827.
Frobel Friendrich, Tokoh Pendidikan Kanak-Kanak, Jerman: 1782-1852.

Montessori, Maria, Tokoh Pendidikan Kanak-kanak, Italia: 1870-1952.

Parkhust, Helen, Model-Model Pendidikan Untuk Anak Usia Dini, American: 1871-1900.


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates